- June 28, 2026
- kitaadalahsurya
- 0 Comments
- Siswa SMPIT
Harmoni Tradisi 10 Muharram dan Santunan Yatim di Yayasan Nurul Qur’an Kudus
Kamis, 25 Juli 2026 M/ 10 Muharram 1448 H – Momentum hari Asyura atau 10 Muharram yang lekat dengan sebutan Idul Yatama (Lebarannya Anak Yatim) diperingati dengan penuh kekhidmatan dan kedalaman spiritual di kompleks Yayasan Nurul Qur’an Kudus. Menggabungkan antara syariat agama, kaidah keilmuan Al-Qur’an, dan kearifan lokal masyarakat santri di pesisir Jawa, institusi yang menaungi Pondok Pesantren dan SMPIT Nahdlatul Qur’an Kudus ini menyelenggarakan kegiatan Santunan Anak Yatim. Acara yang berlangsung hangat dan penuh haru ini dihadiri oleh jajaran pengurus yayasan, para murobbi, serta anak yatim yang berasal dari warga sekitar dan santri. Budaya luhur khas Nahdliyin tampak kental mewarnai sepanjang jalannya acara, menegaskan komitmen kuat lembaga dalam merawat tradisi para ulama terdahulu sekaligus membumikan nilai-nilai al-Qur’an secara kontekstual di era modern.
Jika dibedah melalui kacamata Ulumul Qur’an, khususnya melalui kaidah Al-’Ibratu bi ‘Umumi al-Lafzhi la bi Khushushi as-Sabab (Sesuatu itu diambil dari keumuman lafaznya, bukan dari kekhususan sebab turunnya), kegiatan santunan ini menemukan landasan epistemologisnya yang sangat kuat. Meskipun ayat-ayat tentang anak yatim—seperti dalam QS. al-Ma’un atau QS. al-Baqarah—sering kali turun dipicu oleh peristiwa spesifik pada zaman Rasulullah SAW, kaidah keilmuan ini menegaskan bahwa kewajiban teologis untuk memuliakan, memberi makan, dan mengasihi anak yatim berlaku umum bagi segenap umat Islam di setiap ruang dan waktu, termasuk bagi civitas akademika di Kudus saat ini. Secara analisis sosio-keagamaan, langkah Yayasan Nurul Qur’an memadukan santunan dengan momentum 10 Muharram merupakan bentuk kontekstualisasi ayat. Lembaga ini berhasil menggeser pemahaman teks Al-Qur’an dari sekadar hafalan lisan hifzhul lafzhi menjadi gerakan sosial yang nyata dan berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat hifzhul ummah.
Peringatan hari bersejarah di lembaga berbasis Qur’an ini diawali dengan rangkaian tirakat bersama, di mana para santri pondok dan siswa SMPIT melaksanakan ibadah puasa sunah dari 1 Muharram hingga 8 Muharram, kemudian Puasa Tasu’a dan penutup Puasa Asyura yang kemudian dipuncaki dengan doa rasul dan istighosah berjamaah untuk keselamatan bangsa. Nuansa kultural Kudus yang kental dengan filosofi dakwah Sunan Kudus semakin terasa melalui tradisi kearifan lokal berupa ngalap berkah. Prosesi ini diwujudkan melalui usap kepala secara simbolis dan pemberian doa terbaik yang dilakukan kepada anak-anak yatim, sebuah tindakan kultural yang merefleksikan kasih sayang kebapakan. Tidak hanya itu, sebagai simbol rasa syukur atas keselamatan historis yang dibawa oleh para nabi di hari Asyura, acara ini juga disemarakkan dengan tradisi menikmati hidangan khas Bubur Asyura bersama secara yang efektif mengikis sekat sosial dan merekatkan tali persaudaraan spiritual ukhuwah Islamiyah antar-santri.
Puncak acara ditandai dengan penyerahan santunan berupa uang tunai, paket sembako, dan kebutuhan fasilitas pendidikan penunjang sekolah. Lewat momentum ini berharap, seluruh santri dan siswa SMPIT dapat menyerap kesan mendalam tentang pentingnya empati. Melalui perpaduan apik antara kesalehan ritual (puasa dan doa), kesalehan sosial (santunan), serta pelestarian adat lokal ini, Pondok Pesantren dan SMPIT Nahdlatul Qur’an Kudus membuktikan diri sebagai lembaga yang tidak hanya fokus mencetak generasi penghafal Al-Qur’an secara tekstual, tetapi juga melahirkan insan yang peka, aplikatif, dan kokoh menjaga peradaban Islam di bumi Nusantara. Semoga menjadi wasilah keberkahan bagi kita semua. Aamiin.
Oleh : Ellviaaf
.



Leave a Comment