- January 28, 2026
- kitaadalahsurya
- 0 Comments
- Siswa SMPIT
Jangan Semua Ditanggapi: Diam Juga Bagian dari Ilmu
Nggak semua yang ngajak debat itu layak diladenin.
Nggak semua komentar butuh jawaban.
Dan nggak semua diskusi bikin kamu makin pintar—kadang malah bikin capek hati.
Imam Syafi’i رحمه الله sudah mengingatkan sejak lama:
“Apabila orang dungu mengajakmu berdiskusi, maka sikap terbaik adalah diam dan tidak menanggapinya. Jika engkau menanggapinya, engkau akan menyusahkan dirimu sendiri.”
Imam Syafi’i bukan melarang diskusi. Beliau justru dikenal sebagai ulama besar yang cinta ilmu dan dialog ilmiah. Namun yang dimaksud “orang dungu” adalah mereka yang:
- Tidak mau menerima kebenaran
- Berdiskusi tanpa adab
- Tujuannya bukan mencari ilmu, tapi ingin menang atau menjatuhkan
Di pesantren dan lingkungan akademik, adab selalu didahulukan sebelum ilmu. Orang yang berilmu tahu kapan harus bicara dan kapan harus menahan diri.
Allah ﷻ berfirman:
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka, mereka memilih kata-kata yang baik.”
(QS. Al-Furqan: 63)
Ayat ini mengajarkan bahwa menjaga sikap lebih mulia daripada memuaskan ego.
Hari ini, perdebatan tidak hanya terjadi di kelas, tapi juga:
- Grup WhatsApp
- Kolom komentar
- Media sosial
Tidak sedikit santri dan pelajar yang akhirnya:
- Kehilangan fokus belajar
- Emosi naik turun
- Waktu habis untuk debat yang tidak produktif
Padahal, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan:
أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا
“Aku menjamin sebuah rumah di tepi surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan meskipun ia berada di pihak yang benar.”
(HR. Abu Dawud)
Santri yang cerdas bukan yang paling keras suaranya, tapi yang paling tenang dan konsisten menuntut ilmu.
Oleh : Abdurrohman



Leave a Comment