- April 22, 2026
- kitaadalahsurya
- 0 Comments
- Siswa SMPIT
Semarak Hari Kartini di SMP IT Nahdlatul Quran Kudus
Kudus, 21 April 2026 – Suasana di lingkungan SMP IT Nahdlatul Quran Kudus hari ini tampak berbeda dari biasanya. Santriwati tampak anggun mengenakan busana adat Nusantara dan batik. Riuh rendah semangat emansipasi menyelimuti seluruh sudut sekolah dalam rangka memperingati Hari Kartini.
Rangkaian acara dimulai pada pukul 07.30 WIB dengan pelaksanaan upacara bendera. Hal ini dilakukan sebagai simbol nyata bahwa perempuan memiliki peran strategis dan kepemimpinan yang kuat dalam struktur sosial, sebagaimana yang diperjuangkan oleh RA Kartini.
Seluruh peserta upacara serentak menyanyikan lagu “Ibu Kita Kartini”. Harmoni suara para santri seolah membangkitkan kembali memori kolektif tentang perjuangan seorang putri sejati dalam mendobrak kegelapan demi terbitnya cahaya ilmu.
Kemeriahan memuncak saat acara memasuki sesi Fashion Show. Aula sekolah berubah menjadi panggung catwalk mendadak. Satu per satu perwakilan kelas menampilkan busana adat dari berbagai daerah di Indonesia. Meski bertajuk peragaan busana, nilai-nilai kesantunan tetap dijaga ketat. Para santriwati tampil percaya diri dengan balutan pakaian tradisional yang tetap menutup aurat, membuktikan bahwa modernitas dan ketaatan beragama bisa berjalan beriringan. Dilanjut doa bersama dan ramah tamah.
Sebagai puncak acara sekaligus sarana kontemplasi, seluruh siswa diajak untuk nonton bareng (nobar) Film Kartini. Suasana aula yang tadinya riuh berubah menjadi sunyi saat film diputar. Para santri diajak menyelami batin seorang RA Kartini; perjuangannya, air matanya, hingga keberaniannya dalam berkorespondensi untuk membuka cakrawala dunia.
Melalui film ini, sekolah ingin menanamkan bahwa pendidikan adalah jembatan menuju kemerdekaan jiwa. Nobar ini menutup rangkaian acara dengan diskusi ringan di kelas-kelas, di mana para siswa berbagi impian mereka untuk masa depan.
Peringatan Hari Kartini tahun ini di SMP IT Nahdlatul Quran Kudus bukan sekadar perayaan kostum, melainkan sebuah perjalanan batin untuk kembali menghidupkan api semangat belajar. Karena bagi seorang santri, setiap hari adalah perjuangan untuk terus beranjak dari “gelapnya ketidaktahuan” menuju “terangnya cahaya pengetahuan”.
Oleh : Ellviaaf



Leave a Comment