- May 9, 2026
- kitaadalahsurya
- 0 Comments
- Siswa SMPIT
Mengenal Kitab Syi’ir Ngudi Susilo Karya KH. Bisri Musthofa
Tradisi keilmuan di SMP IT Nahdlatul Quran Kudus berdiri di atas pilar yang kokoh, yakni upaya menjaga ketersambungan antara pendidikan modern dengan literatur klasik pesantren. Di tengah gempuran tren pendidikan global, sekolah ini memilih untuk tetap mengakar pada tradisi melalui kajian Kitab Syi’ir Ngudi Susilo. Kitab ini menjadi rujukan primer yang mendasari pembentukan etika dan tata krama santri dalam kehidupan bermasyarakat. Jauh dari sekadar rutinitas mengaji, pengkajian kitab ini adalah upaya sistematis untuk memastikan bahwa kecerdasan digital para santri senantiasa beriringan dengan kehalusan budi pekerti, sehingga setiap langkah mereka dalam menuntut ilmu tetap terbingkai dalam koridor adab yang diajarkan oleh para salafus shalih.
Dalam tradisi pendidikan pesantren di Jawa, pembentukan karakter tidak selalu dilakukan melalui ceramah yang kaku, melainkan sering kali lewat bait-bait syi’ir yang dilantunkan dengan syahdu. Salah satu rujukan paling fundamental dalam pendidikan etika bagi santri pemula adalah Kitab Syi’ir Ngudi Susilo. Kitab ini merupakan mahakarya dari KH. Bisri Musthofa, seorang ulama besar dari Rembang yang juga merupakan ayahanda dari KH. Mustofa Bisri (Gus Mus) dan penyusun Tafsir al-Ibriz.
Mengenal Kitab Syi’ir Ngudi Susilo dan Biografi Penulis
Secara etimologi, nama kitab ini berasal dari bahasa Jawa: “Ngudi” yang berarti mencari, mengupayakan, atau menuntut; dan “Susilo” yang berarti berasal dari kata “Su” (baik/ mulia) dan “Sila” (norma/ aturan/ tingkah laku). Jadi, Susilo berarti etika, tata krama, sopan santun, atau akhlak yang baik. Secara terminologi, Ngudi Susilo berarti “Mencari Etika” atau “Menuntut Akhlak yang Baik”.
Beliau memahami bahwa bagi anak-anak, menghafal teks hukum yang berat adalah tantangan besar. Oleh karena itu, beliau memilih metodologi syi’iran (puisi) sebagai media dakwah. Dengan pola rima yang teratur dan bahasa Jawa yang merakyat (namun halus), nilai-nilai akhlak yang luhur menjadi lebih mudah diterima, dihafal, dan meresap ke dalam sanubari santri.
Kehadiran kitab ini tidak dapat dipisahkan dari sosok penyusunnya, KH. Bisri Musthofa (1915–1977), seorang ulama karismatik, orator ulung, dan penulis produktif asal Rembang, Jawa Tengah. Pendiri Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Leteh ini merupakan tokoh dan kyai intelektual yang berhasil membumikan ajaran agama lewat bahasa rakyat. Sebagai ayahanda dari KH. Mustofa Bisri (Gus Mus), beliau mewariskan lebih dari seratus karya, termasuk Tafsir al-Ibriz yang fenomenal. Dalam Ngudi Susilo, Kyai Bisri mendemonstrasikan kepiawaiannya merajut tuntunan adab dalam bentuk syi’ir ritmis berbahasa Jawa aksara pegon, sebuah metode yang sangat efektif untuk menanamkan nilai-nilai moral ke dalam sanubari santri tanpa kesan menggurui.
Metodologi Penulisan dan Keunikan Literasi
Kitab Ngudi Waluyo ditulis menggunakan aksara pegon (huruf Arab gundul yang digunakan untuk menulis bahasa Jawa). Metodologi ini merupakan bentuk pelestarian identitas kaum santri sekaligus strategi pendidikan literasi ganda. Santri diajak untuk mahir membaca huruf hijaiyah sambil memahami kearifan lokal melalui bahasa ibu.
Struktur syi’irnya menggunakan pola nadhom, sehingga sering kali dilantunkan secara klasikal (bersama-sama) sebelum memulai pelajaran atau setelah waktu shalat isya’ berjamaah. Pola audio-visual (membaca sambil melantunkan) inilah yang membuat ajaran di dalam Ngudi Susilo bertahan sangat lama di ingatan para santri dibandingkan metode hafalan teks prosa biasa.
Berikut kutipan bait pembuka:
Iki syi’ir kanggo bocah lanang wadon
Nebihake tingkah laku ingkang awon
serta nerangake budi kang payoga
kanggo dalam mlebu ing suwargo
Arti secara maknawi:
Ini syi’ir untuk anak Laki-Laki dan Perempuan
Menjauhkan tingkah laku yang buruk.
Serta menjelaskan budi pekerti yang baik (utama)
Sebagai jalan untuk masuk ke dalam surga.
Intisari Ajaran:
Isi dari Ngudi Susilo merupakan ringkasan dari kitab-kitab akhlak besar, namun disajikan dalam konteks kehidupan sehari-hari anak Nusantara. Beberapa poin utama yang dibedah dalam kitab ini meliputi:
No | Kategori Adab | Materi Penafsiran/ Isi Pokok | Pesan Moral Utama |
1 | Adab kepada Orang Tua | Cara berbicara, mematuhi perintah, dan menjawab panggilan orang tua dengan kata “Dalem”. | Berbakti (Birrul Walidain) adalah kunci utama keselamatan. |
2 | Adab kepada Guru | Menghormati guru, memperhatikan saat diajar, dan tidak membantah instruksi guru. | Keberkahan ilmu hanya didapat melalui rasa hormat (Ta’dzim). |
3 | Adab di Rumah | Menjaga kebersihan rumah, membantu pekerjaan orang tua, dan rukun dengan saudara. | Rumah adalah madrasah pertama untuk melatih tanggung jawab. |
4 | Adab di Sekolah/ Madrasah | Cara bergaul dengan teman, tidak sombong, dan tertib dalam belajar. | Menciptakan lingkungan belajar yang harmonis dan kompetitif secara sehat. |
5 | Adab Sosial (Masyarakat) | Menghormati orang yang lebih tua, menyayangi yang lebih muda, dan menjaga lisan. | Menjadi pribadi yang bermanfaat dan disenangi dalam pergaulan. |
6 | Adab Makan & Minum | Berdoa sebelum makan, menggunakan tangan kanan, dan tidak mencela makanan. | Menanamkan rasa syukur dan sifat zuhud sejak dini. |
7 | Adab Kebersihan Diri | Mencuci tangan, kerapian pakaian, dan kebersihan badan. | Kebersihan lahiriah mencerminkan kesucian batin. |
8 | Adab Berbicara | Berbicara pelan, tidak memotong pembicaraan, dan berkata jujur. | Lisan adalah cerminan budi pekerti seseorang. |
Di SMP IT Nahdlatul Quran Kudus, kajian kitab ini memiliki relevansi yang sangat strategis. Sebagai institusi yang fokus pada Tahfidzul Quran, sekolah ini menyadari bahwa kecerdasan intelektual dan hafalan yang kuat harus dibalut dengan unggah-ungguh (tata krama). Syi’ir Ngudi Susilo hadir sebagai “kompas moral” yang menjaga santri agar tetap rendah hati dan santun di tengah gempuran arus informasi global. Melalui bimbingan Bapak Pengasuh, KH. Arifin Noor, santri diajak untuk melantunkan syi’ir ini secara rutin, menjadikannya sebagai sarana internalisasi nilai-nilai karakter secara spiritual dan estetis.
Implementasi kitab ini juga sangat mendukung kehidupan santri di asrama. Ajaran praktis mengenai kebersihan, kerapian, dan kedisiplinan yang termaktub dalam bait-bait karya KH. Bisri Musthofa ini menjadi pedoman harian bagi mereka yang mulai memasuki masa mukallaf. Dengan demikian, SMP IT Nahdlatul Quran berupaya memastikan bahwa setiap lulusannya tumbuh menjadi pribadi yang seimbang: unggul di bidang teknologi, kokoh dalam hafalan Quran, dan memiliki kedalaman adab sebagaimana yang dicita-citakan oleh para ulama salaf. Melalui kajian ini, para santri diharapkan tidak hanya cerdas di layar digital, tetapi juga mampu meraih keselamatan melalui kesempurnaan akhlak di dunia nyata.
Artikel ini disusun untuk mendokumentasikan kegiatan literasi keagamaan di SMP IT Nahdlatul Quran Kudus melalui pendekatan kitab kuning klasik.
Oleh : Ellviaaf



Leave a Comment